Sebuah wallet Bitcoin dari era Satoshi (sebutan untuk masa awal Bitcoin ada) baru saja “hidup” lagi setelah 13 tahun nggak ada aktivitas. Isi wallet-nya nggak main-main: 909,38 BTC. Kalau dirupiahkan dengan harga sekarang, nilainya tembus sekitar Rp1,3 Triliun! (asumsi US$84,6 juta).

Kilas Balik ke Tahun 2013
Data dari Arkham Intelligence menunjukkan kalau pemilik wallet ini pertama kali menerima Bitcoin pada tahun 2013. Coba kita bandingkan modalnya dulu dengan hasil sekarang:
- Tahun 2013: Harga 1 BTC masih di bawah US$7 (sekitar Rp100 ribuan). Total modal di dalam wallet tersebut cuma sekitar US$6.400.
- Investasi Lain: Kalau modal itu ditaruh di saham Amerika (S&P 500), sekarang “cuma” jadi US$37.000. Kalau beli emas, naiknya 150%.
- Bitcoin: Di wallet ini, nilainya melonjak 13.900 kali lipat!
Baca Juga Pergerakan DRX Token Jadi Sorotan Pasar Kripto Indonesia
Kok Bisa Tahan 13 Tahun? (Mental Baja!)
Banyak orang kagum dengan sisi psikologis si pemilik wallet ini. Bayangkan tantangan yang dia lewati selama belasan tahun:
- Harga Anjlok Parah: Pernah ngerasain harga turun sampai 80% berkali-kali.
- Drama Bursa: Lewatin masa-masa bursa kripto besar bertumbangan.
- Godaan Jual: Tetap HODL (bertahan) saat harga naik tinggi di tahun 2017 dan 2021.
Kenapa Baru Pindah Sekarang?
Ada beberapa teori kenapa “si paus” ini tiba-tiba memindahkan asetnya:
- Keamanan Rutin: Mungkin cuma mau ganti ke wallet yang lebih modern atau ganti penyedia penyimpanan (kustodian).
- Mau Jual (Likuidasi): Bisa jadi ini langkah awal sebelum ditukar ke uang tunai. Para analis lagi memantau apakah koin ini bakal mampir ke alamat exchange.
- Takut Komputer Kuantum: Ada isu teknologi komputer masa depan (kuantum) bisa membobol kode keamanan wallet jadul. Memindahkan BTC ke struktur wallet yang lebih baru adalah langkah antisipasi biar asetnya tetap aman.
Fenomena ini bukan yang pertama, sepanjang 2024-2025 tercatat sudah banyak “pemain lama” yang mulai menggerakkan koin-koin kuno dari wallet mereka.









