Peluncuran Robinhood Chain ini menjadi penutup yang sangat menarik untuk narasi market awal 2026. Di saat ritel sedang ketakutan dan mencari “Bitcoin going to zero” di Google, raksasa keuangan seperti Robinhood justru sedang sibuk membangun jembatan permanen antara Wall Street dan blockchain.
Robinhood Chain: Ketika Saham & ETF Mulai “Pindah” ke Blockchain
Meskipun pendapatan trading kripto Robinhood turun 38% akibat bear market pasca-Oktober, mereka tidak mundur. Sebaliknya, mereka meluncurkan Robinhood Chain (L2 berbasis teknologi Arbitrum) dengan angka awal yang fantastis: 4 juta transaksi dalam seminggu!
Baca Juga CEO Crypto.com Bocorkan Agen AI Baru ke Puluhan Juta Penonton Super Bowl!
Fokus Utama: Tokenisasi Real-World Assets (RWA)
Robinhood tidak tertarik bikin jaringan untuk koin micin. Fokus mereka sangat spesifik:
- Aset Tradisional: Tokenisasi saham AS, ETF, dan instrumen keuangan lainnya.
- Infrastruktur Kuat: Menggandeng nama besar seperti Alchemy, LayerZero, dan Chainlink untuk memastikan data harga dan transfer lintas-chain berjalan lancar.
- Progres Nyata: Sudah ada hampir 500 saham dan ETF yang ditokenisasi di Arbitrum sebagai pemanasan sebelum mainnet rilis akhir tahun ini.
Ledakan Sektor RWA di Tengah Krisis

Data dari RWA.xyz menunjukkan anomali yang menarik: saat harga koin turun, minat pada aset dunia nyata yang “dionchain-kan” justru meroket:
- Total Aset RWA: Tembus US$24,83 Miliar.
- Jumlah Wallet RWA: Naik 33% hanya dalam 30 hari (mencapai 850 ribu wallet).
- Kesimpulan: Investor mulai mencari aset yang punya underlying (jaminan) nyata di dunia fisik daripada aset spekulatif murni.
Strategi “Super-App” Keuangan
Sama seperti strategi Base milik Coinbase yang kita bahas sebelumnya, Robinhood ingin wallet mereka menjadi pintu masuk utama bagi sistem keuangan masa depan. Kamu tidak lagi cuma “beli” angka di aplikasi, tapi memegang token saham yang benar-benar ada di blockchain.
Dengan masuknya saham dan ETF ke ranah onchain, cara kita mengelola wallet akan berubah total:
- Satu Wallet untuk Semuanya: Di masa depan, wallet Anda mungkin akan berisi campuran antara Bitcoin, Ethereum, USDT, dan token saham Apple atau Tesla. Ini membuat manajemen risiko dan diversifikasi jadi jauh lebih mudah.
- Keamanan Harus Level Institusi: Karena wallet Anda kini bisa berisi aset legal seperti saham, risiko serangan fisik (wrench attack) atau digital (address poisoning) menjadi semakin berbahaya. Kehilangan akses wallet berarti kehilangan aset legal Anda.
- Dividen Onchain: Tokenisasi saham memungkinkan pembagian dividen langsung masuk ke wallet dalam bentuk stablecoin secara otomatis lewat smart contract.









