Michael Saylor, salah satu pendiri Strategy, kembali memberikan sinyal akan adanya pembelian Bitcoin (BTC) baru oleh perusahaannya. Dalam unggahan terbarunya di platform X, Saylor membagikan grafik harga Bitcoin, mengisyaratkan akumulasi BTC yang akan dilakukan oleh perusahaannya, sekaligus menandai minggu kedelapan dari aksi pembelian BTC secara berturut-turut.
“Warna oranye adalah warna favorit saya,” tulis Saylor kepada 4,4 juta pengikutnya di X—angka yang terus bertambah seiring dengan meningkatnya perhatian media terhadap strategi penyimpanan aset perusahaan dalam bentuk Bitcoin.
Pembelian terbaru Strategy dilakukan pada 26 Mei, dengan jumlah 4.020 BTC senilai sekitar $427 juta pada saat transaksi. Dengan penambahan ini, total kepemilikan Bitcoin Strategy kini mencapai 580.250 BTC.
Menurut data dari Bitcoin Treasuries, jumlah kepemilikan ini menjadikan Strategy sebagai pemegang Bitcoin terbesar di dunia, bahkan melampaui total kepemilikan Bitcoin gabungan milik pemerintah Amerika Serikat dan Tiongkok.
Strategy kini telah menjadi identik dengan Bitcoin, di mana banyak trader menganggapnya sebagai cerminan langsung dari harga dan prospek aset kripto tersebut.
Analis CryptoQuant, Ki Young Ju, menyebutkan bahwa akumulasi Bitcoin secara agresif oleh Strategy sudah mulai memengaruhi dinamika pasar. Sementara itu, eksekutif dari Sygnum Bank mengatakan kepada Cointelegraph bahwa aksi beli masif dari institusi seperti Strategy bisa memicu supply shock, yang berpotensi mendorong harga BTC naik lebih tinggi.
Baca Juga Hasil Survei DCG: 77% Warga AS Nilai Decentralized AI Lebih Menguntungkan Masyarakat
Kontroversi Soal Bukti Kepemilikan Bitcoin Strategy
Meski Strategy disebut sebagai kekuatan finansial baru oleh penulis seperti Adam Livingston, tidak semua investor sepenuhnya percaya pada angka kepemilikan Bitcoin yang dilaporkan oleh perusahaan tersebut.
Semakin banyak pihak di pasar yang mempertanyakan klaim Strategy soal akumulasi Bitcoin, terutama karena perusahaan ini belum melakukan audit bukti cadangan (proof of reserve) secara rutin.

Salah satu pengguna bahkan menanggapi unggahan Saylor dengan mempertanyakan:
“Tidak ada proof of reserve adalah cara Anda bilang ‘percaya aja, bro.’ Kapan akan mempublikasikan data mempool? Atau Anda takut menunjukkan kalau yang dimiliki bukan Bitcoin sungguhan, melainkan hanya kertas Bitcoin?”
Menanggapi kritik tersebut, Saylor berpendapat bahwa audit bukti cadangan berisiko untuk dilakukan oleh perusahaan besar, karena membuka akses dompet perusahaan untuk dilacak oleh publik dan menarik perhatian pihak-pihak yang tidak diinginkan.
Tingkat transparansi tinggi yang melekat pada blockchain publik sering disebut sebagai salah satu tantangan utama yang dihadapi institusi untuk menjalankan operasional bisnis mereka secara on-chain.









