Waduh, situasi di Amerika Serikat makin memanas saja ya! Kebijakan tarif Presiden Trump ini benar-benar memicu “perang” baru, bukan cuma soal dagang, tapi juga perang urat syaraf dengan lembaga hukum tertinggi di sana.
“Tamparan” dari Mahkamah Agung (SCOTUS)
Drama ini memuncak pada Jumat, 20 Februari 2026, ketika Mahkamah Agung AS memutuskan dengan suara 6-3 bahwa sebagian besar tarif global yang diberlakukan Trump selama setahun terakhir adalah ilegal.
- Alasannya: Trump dianggap menyalahgunakan wewenang darurat (UU IEEPA 1977) untuk memungut pajak impor tanpa persetujuan Kongres.
- Reaksi Trump: Marah besar! Ia menyebut para hakim sebagai “aib bagi bangsa” dan “tidak patriotik,” terutama hakim-hakim yang dulu ia tunjuk sendiri.
Trump “Ganti Jurus” ke Tarif 15%
Hanya berselang jam setelah kalah di pengadilan, Trump langsung mengumumkan “balas dendam” lewat jalur hukum lain (Seksyen 122 UU Perdagangan 1974):
- Awalnya 10%, Jadi 15%: Awalnya ia mengumumkan tarif global 10%, tapi per Sabtu (21/2/2026), ia menaikkan angkanya menjadi 15%.
- Berlaku Segera: Tarif ini dijadwalkan mulai berlaku pada Selasa, 24 Februari 2026.
- Celah Hukum: Jalur ini memang legal buat presiden, tapi ada batasnya: cuma berlaku 150 hari (sekitar 5 bulan) dan maksimal 15%. Trump tampaknya langsung tancap gas pakai batas maksimal itu.
Banyak pihak yang nggak setuju karena tarif ini dianggap bakal bikin harga barang makin mahal buat rakyat AS sendiri:
- Rand Paul & Ro Khanna: Menilai ini adalah beban buat UMKM dan keluarga pekerja.
- Think Tank (Cato Institute): Memperingatkan kalau kebijakan ini bisa merusak hubungan diplomatik AS dengan negara sahabat dalam jangka panjang.
Kenapa Bitcoin Malah “Cuek”?
Menariknya, pasar kripto justru terlihat santai. Saat pengumuman tarif biasanya bikin aset berisiko anjlok, kali ini Bitcoin justru naik sekitar 3% ke level US$67.949.
Kenapa bisa begitu?
- Kebal Berita: Investor mungkin sudah terbiasa dengan gaya gertakan tarif Trump.
- Fokus Lain: Pelaku pasar lebih memperhatikan likuiditas global dan kemungkinan pemotongan suku bunga daripada drama perang dagang.
- Ketidakpastian Hukum: Banyak yang yakin kalau tarif 15% ini pun bakal kembali digugat di pengadilan dalam waktu dekat.
Kesimpulannya: Trump sedang adu cepat dengan pengadilan. Ia pakai segala celah hukum yang ada buat tetap menjalankan agenda “America First”-nya, meski ditentang banyak pihak.









