Bitcoin kembali menembus level psikologis $70.000 pada 19 Agustus 2026, untuk pertama kalinya sejak Juni.Kenaikan ini menjadi salah satu pergerakan harian terbesar Bitcoin dalam beberapa bulan terakhir dan sekaligus menghidupkan kembali optimisme di pasar crypto.
Namun, di balik angka $70.000 tersebut, ada cerita yang jauh lebih besar. Rally Bitcoin kali ini tidak berdiri sendiri. Pergerakan pasar obligasi AS, kebijakan Treasury, perkembangan regulasi crypto di Amerika Serikat, serta likuidasi posisi short ikut menjadi bahan bakar utama kenaikan.
Pertanyaannya sekarang: apakah Bitcoin benar-benar sedang memulai fase bullish baru, atau pasar hanya sedang mengalami short squeeze besar-besaran?
Bitcoin Akhirnya Keluar dari Range
Sebelum rally terjadi, Bitcoin berada dalam tekanan selama beberapa minggu. BTC sempat bergerak di sekitar area $64.000–$65.000 dan mengalami konsolidasi yang relatif panjang.
Pada 19 Agustus, situasinya berubah drastis.
Bitcoin naik lebih dari 7% dan sempat menyentuh sekitar $70.000 di Coinbase. Pergerakan tersebut membawa BTC ke level tertinggi sejak awal Juni. CoinDesk mencatat bahwa kenaikan tersebut terjadi bersamaan dengan sejumlah katalis makro dan perkembangan kebijakan crypto di AS.
Pergerakan tersebut juga sangat cepat. BTC bergerak dari sekitar $64.000 menuju hampir $70.000 hanya dalam beberapa jam.
Dengan demikian, level $70.000 bukan hanya angka psikologis. Secara teknikal, level tersebut juga menjadi ujian penting setelah Bitcoin gagal mempertahankan momentum bullish selama beberapa minggu terakhir.
1. Treasury AS Menjadi Salah Satu Pemicu Utama
Salah satu katalis terbesar justru datang dari pasar obligasi, bukan langsung dari crypto.
Departemen Keuangan Amerika Serikat mengumumkan bahwa mereka akan meningkatkan pembelian kembali obligasi pemerintah AS berjangka panjang.
Mulai September, Treasury berencana meningkatkan ukuran buyback untuk surat utang dengan tenor 10–30 tahun dari sekitar $2 miliar menjadi setidaknya $4 miliar per operasi.
Langkah ini dirancang untuk meningkatkan likuiditas di pasar Treasury dan membantu meredakan tekanan pada obligasi jangka panjang.
Pasar langsung merespons.
Yield Treasury turun, dolar melemah, sementara saham, emas, dan Bitcoin ikut mengalami kenaikan. Reuters mencatat bahwa pengumuman tersebut mendorong penurunan yield jangka panjang hingga sekitar 10 basis points dan ikut memicu penguatan Bitcoin serta aset berisiko lainnya.
Namun, penting untuk memahami bahwa Treasury buyback bukan quantitative easing (QE).
Treasury pada dasarnya melakukan operasi untuk memperbaiki likuiditas dan struktur pasar obligasi, bukan mencetak uang baru seperti yang dilakukan Federal Reserve melalui QE.
Karena itu, dampaknya terhadap Bitcoin mungkin lebih tepat dibaca sebagai perubahan kondisi liquidity dan risk sentiment, bukan sebagai suntikan likuiditas langsung ke crypto.
2. Short Squeeze Memperbesar Rally
Faktor berikutnya bahkan lebih penting untuk menjelaskan kecepatan kenaikan Bitcoin.
Begitu BTC berhasil menembus resistance di area $65.000–$68.000, posisi short yang bertaruh bahwa Bitcoin akan turun mulai terlikuidasi.
Menurut sejumlah laporan pasar, lebih dari $1 miliar posisi short crypto dilikuidasi dalam periode rally tersebut, sementara estimasi lainnya menempatkan total short liquidation sekitar $1,4 miliar.
Mekanismenya sederhana:
BTC naik → short mulai terkena liquidation → trader terpaksa membeli BTC untuk menutup posisi → harga naik lebih tinggi → semakin banyak short terlikuidasi.
Terjadilah efek domino.
Inilah salah satu alasan mengapa Bitcoin mampu bergerak beberapa ribu dolar hanya dalam hitungan jam.
Dengan kata lain, sebagian dari rally $70K kemungkinan besar merupakan mechanical buying, bukan seluruhnya berasal dari investor yang tiba-tiba berubah menjadi bullish.
Ini juga menjadi alasan mengapa trader perlu berhati-hati dalam membaca rally tersebut.
Short squeeze bisa menghasilkan kenaikan yang sangat agresif, tetapi momentum tersebut tidak selalu bertahan setelah forced buying selesai.
3. Washington Kembali Mengirim Sinyal Pro-Crypto
Katalis lainnya datang dari Washington.
Pada 19 Agustus, Presiden Donald Trump bertemu dengan sejumlah pemain besar industri crypto di White House dan kembali mendorong Kongres untuk meloloskan CLARITY Act, sebuah legislasi yang ditujukan untuk memberikan kerangka regulasi yang lebih jelas bagi industri aset digital di AS.
Pertemuan tersebut melibatkan sejumlah nama besar dari industri crypto dan financial markets, termasuk Coinbase, Kraken, Ripple, Gemini, Robinhood, Nasdaq, serta pejabat SEC dan CFTC.
Secara sentimen, ini penting.
Pasar crypto telah lama menghadapi masalah regulatory uncertainty di Amerika Serikat.
Jika investor percaya bahwa AS sedang bergerak menuju regulasi yang lebih jelas, maka risiko investasi pada perusahaan crypto, exchange, token, dan infrastructure blockchain dapat dianggap semakin rendah.
Namun, CLARITY Act sendiri belum selesai.
Jadi untuk saat ini, pasar masih memperdagangkan ekspektasi, bukan hasil final legislasi.
4. SEC Juga Mulai Membentuk “Rulebook” Baru untuk Crypto
Di saat yang sama, SEC memperkenalkan proposal yang disebut “Regulation Crypto Assets”, yang berisi pendekatan baru terhadap fundraising dan aktivitas aset digital.
Proposal tersebut mencakup berbagai mekanisme yang berpotensi memberikan ruang lebih besar bagi perusahaan crypto untuk melakukan aktivitas fundraising tanpa secara otomatis masuk ke rezim securities tradisional.
Ini merupakan perkembangan penting karena regulatory clarity selama ini menjadi salah satu hambatan terbesar bagi industri crypto di Amerika Serikat.
Namun, lagi-lagi ada caveat.
Proposal bukan berarti aturan final.
Bahkan beberapa hari sebelumnya, SEC sempat menunda pertemuan yang dijadwalkan membahas proposal crypto tersebut.
Artinya, investor masih harus membedakan antara regulatory signal dan regulatory implementation.
5. Bitcoin Tidak Naik Sendirian
Satu hal yang membuat rally kali ini menarik adalah kenaikannya tidak terbatas pada Bitcoin.
Ethereum bahkan mencatat kenaikan yang lebih agresif, sementara sejumlah altcoin juga ikut mengalami breakout. Salah satu laporan mencatat ETH sempat naik hampir 20% dalam rally tersebut.
Hal ini menunjukkan bahwa pergerakan kali ini memiliki karakter broad-based risk-on move, bukan hanya investor yang membeli Bitcoin sebagai safe haven.
Ketika BTC naik dan kemudian ETH serta altcoin mulai mengikuti, biasanya risk appetite di pasar crypto sedang meningkat.
Tetapi broad rally juga berarti volatilitas bisa meningkat jauh lebih cepat.
Apakah Ini Awal Bull Market Baru?
Di sinilah bagian paling menarik.
Bitcoin memang berhasil kembali ke $70.000.
Tetapi menembus $70.000 tidak otomatis berarti bull market baru telah dimulai.
Ada beberapa alasan untuk tetap berhati-hati.
Pertama, rally ini terjadi setelah Bitcoin berada dalam periode konsolidasi yang cukup panjang. Sebagian besar kenaikan awal berasal dari breakout dan short covering.
Kedua, kondisi makro belum sepenuhnya bullish.
Notulen pertemuan Federal Reserve menunjukkan bahwa beberapa pejabat masih khawatir terhadap inflasi dan bahkan mempertimbangkan kemungkinan perlunya kebijakan yang lebih ketat apabila tekanan inflasi bertahan.
Artinya, Bitcoin masih sensitif terhadap pergerakan yield dan ekspektasi suku bunga.
Jika yield kembali naik secara agresif, risk assets termasuk crypto bisa kembali berada di bawah tekanan.
Ketiga, Treasury buyback sendiri bukanlah QE.
Reuters dan Financial Times sama-sama menekankan bahwa operasi tersebut lebih berkaitan dengan likuiditas dan pengelolaan pasar Treasury daripada stimulus moneter langsung.
Karena itu, tidak tepat jika rally Bitcoin saat ini langsung disimpulkan sebagai akibat dari “money printing”.
Level Berikutnya yang Perlu Diperhatikan
Setelah Bitcoin berhasil mencapai $70.000, fokus pasar kemungkinan akan bergeser dari:
“Bisakah Bitcoin naik ke $70K?”
menjadi:
“Bisakah Bitcoin bertahan di atas $70K?”
Ini jauh lebih penting.
Jika BTC mampu mempertahankan area $68.000–$70.000 setelah efek short squeeze mereda, maka breakout tersebut akan terlihat lebih sehat.
Sebaliknya, jika Bitcoin kembali jatuh ke dalam range sebelumnya setelah forced buying berakhir, rally ini berpotensi berubah menjadi bull trap.
Dengan kata lain, harga setelah breakout lebih penting daripada angka breakout itu sendiri.
Kesimpulan
Bitcoin kembali ke $70.000 bukan karena satu berita tunggal.
Rally tersebut merupakan kombinasi dari beberapa faktor:
- Treasury AS meningkatkan rencana bond buyback.
- Yield obligasi dan dolar mengalami penurunan.
- Risk appetite global meningkat.
- Regulatory sentiment terhadap crypto di AS membaik.
- Trump kembali mendorong CLARITY Act.
- SEC bergerak menuju kerangka regulasi crypto yang lebih spesifik.
- Bitcoin menembus resistance dan memicu short squeeze besar.
- ETH dan altcoin ikut menguat, menunjukkan broader crypto risk appetite.
Namun, ada satu hal yang perlu diingat:
Bitcoin kembali ke $70K adalah sinyal bullish, tetapi belum menjadi bukti bahwa bull market baru sudah dimulai.
Untuk mengonfirmasi reversal, pasar perlu melihat apakah BTC mampu bertahan di atas breakout level, bukan hanya menyentuhnya.
Jika berhasil, $70.000 bisa berubah dari resistance menjadi support baru.
Jika gagal, rally ini bisa dikenang sebagai salah satu short squeeze terbesar sebelum Bitcoin kembali masuk ke fase konsolidasi.
Untuk saat ini, narasi paling tepat bukan “Bitcoin is back.”
Melainkan:
“Bitcoin is testing whether this rally has enough macro, liquidity, and institutional fuel to become a real trend.”
