Mengapa Adopsi Kripto Melesat di Satu Wilayah tapi Tertinggal di Lainnya?

Mengapa Adopsi Kripto Melesat di Satu Wilayah tapi Tertinggal di Lainnya?

Wah, laporan dari PwC ini memberikan gambaran yang makin jelas ya: kripto bukan lagi sekadar “mainan” anak IT, tapi sudah masuk ke struktur inti ekonomi dunia. Menariknya, adopsinya tidak seragam—tergantung masalah apa yang mau diselesaikan di negara tersebut.

PwC bilang kalau kripto itu borderless (tanpa batas), tapi adopsinya punya batas. Kenapa? Karena kebutuhan tiap negara beda-beda:

Baca Juga Pakar Ungkap Fakta Mengerikan: 80% Proyek Kripto Tak Pernah Pulih Setelah Diretas

Era “Point of No Return”: Institusi Sudah Terlanjur Nyebur

Ini bagian yang paling krusial. PwC menegaskan bahwa keterlibatan institusi (bank, manajer investasi, perusahaan besar) sudah sampai di titik nggak bisa balik lagi.

Sisi Lain: Gaya “Kripto Asli” Mulai Tergeser

Seiring masuknya pemain besar, budaya “anak kripto” yang santai dan bebas perlahan berubah. Standar pasar sekarang jadi lebih formal, penuh aturan tata kelola, dan harus punya ketahanan sistem yang tinggi. Istilahnya, dunia kripto sekarang lagi “pakai jas dan dasi.”

Nah, ini pengingat penting buat kita. Meski institusi masuk besar-besaran, para analis seperti Luke Gromen kasih peringatan:

“Jangan berharap institusi otomatis bikin harga meroket drastis.”

Tanpa ada kejutan besar atau peristiwa luar biasa (katalis), harga mungkin nggak akan langsung melonjak ke level tertinggi baru cuma karena institusi masuk. Mereka cenderung lebih hati-hati dan sistematis dalam membeli.

Exit mobile version