Wah, laporan dari PwC ini memberikan gambaran yang makin jelas ya: kripto bukan lagi sekadar “mainan” anak IT, tapi sudah masuk ke struktur inti ekonomi dunia. Menariknya, adopsinya tidak seragam—tergantung masalah apa yang mau diselesaikan di negara tersebut.
PwC bilang kalau kripto itu borderless (tanpa batas), tapi adopsinya punya batas. Kenapa? Karena kebutuhan tiap negara beda-beda:
- Di satu negara, kripto dipakai buat kirim uang (remitansi) biar murah.
- Di negara lain, dipakai buat nabung karena mata uang lokalnya lagi nggak stabil.
- Di negara maju, fokusnya lebih ke tokenisasi aset atau pasar modal. Jadi, nggak ada satu ukuran yang pas untuk semua (no one size fits all).
Baca Juga Pakar Ungkap Fakta Mengerikan: 80% Proyek Kripto Tak Pernah Pulih Setelah Diretas
Era “Point of No Return”: Institusi Sudah Terlanjur Nyebur
Ini bagian yang paling krusial. PwC menegaskan bahwa keterlibatan institusi (bank, manajer investasi, perusahaan besar) sudah sampai di titik nggak bisa balik lagi.
- Bukan lagi opsional: Dulu perusahaan mungkin cuma “coba-coba”, sekarang kripto sudah masuk ke neraca keuangan dan sistem operasional mereka.
- Efek Trump: Kebijakan di AS yang lebih ramah kripto bikin bos-bos besar makin percaya diri buat meluncurkan produk stablecoin dan layanan lainnya.
- Angka Fantastis: Bayangkan, institusi sudah borong sekitar 577.000 Bitcoin (sekitar US$53 miliar) cuma dalam setahun terakhir!
Sisi Lain: Gaya “Kripto Asli” Mulai Tergeser
Seiring masuknya pemain besar, budaya “anak kripto” yang santai dan bebas perlahan berubah. Standar pasar sekarang jadi lebih formal, penuh aturan tata kelola, dan harus punya ketahanan sistem yang tinggi. Istilahnya, dunia kripto sekarang lagi “pakai jas dan dasi.”
Nah, ini pengingat penting buat kita. Meski institusi masuk besar-besaran, para analis seperti Luke Gromen kasih peringatan:
“Jangan berharap institusi otomatis bikin harga meroket drastis.”
Tanpa ada kejutan besar atau peristiwa luar biasa (katalis), harga mungkin nggak akan langsung melonjak ke level tertinggi baru cuma karena institusi masuk. Mereka cenderung lebih hati-hati dan sistematis dalam membeli.
