CEO Immunefi, Mitchell Amador, bilang kalau musuh terbesar tim proyek saat kena hack bukan cuma si peretas, tapi keraguan.
- Panic Attack: Banyak tim nggak punya rencana darurat (incident response). Mereka malah debat kusir sementara dana terus mengalir keluar.
- Gengsi Membunuh: Ada proyek yang enggan menghentikan (pause) smart contract karena takut reputasi jelek, padahal itu satu-satunya cara stop pencurian.
- Silent Treatment: Diam seribu bahasa saat kejadian malah bikin pengguna panik maksimal.
Rekor Kelam 2025
Ternyata tahun 2025 kemarin cukup “berdarah” buat industri kripto:
- Total Kerugian: Tembus US$3,4 miliar.
- Kasus Terbesar: Peretasan Bybit senilai US$1,4 miliar jadi salah satu yang paling mengguncang.
- Senjata Baru Peretas: AI sekarang dipakai buat bikin pesan phishing yang sangat rapi dan personal dalam skala besar.

Titik Lemah: Faktor Manusia
Menariknya, sekarang peretas nggak cuma menyerang celah di smart contract, tapi lebih sering menyerang psikologi user.
Baca Juga Memecoin Jadi Korban Terbesar, 11 Juta Token Runtuh dalam Setahun
Kasus Nyata: Kejadian US$282 juta (yang kita bahas sebelumnya) itu murni karena social engineering. Orang lebih mudah “dibobol” daripada kode komputer.
Meskipun statistik di atas seram, para ahli optimistis tahun 2026 ini bakal jadi titik balik:
- Audit Lebih Ketat: Praktik pengembangan kode sekarang jauh lebih disiplin.
- On-chain Firewall: Adanya sistem deteksi otomatis yang bisa stop transaksi mencurigakan secara real-time.
- Kesiapan Respons: Proyek-proyek baru mulai sadar kalau punya “Rencana Darurat” itu wajib hukumnya.